Lika Liku Perjalanan MER-C Membangun Rumah Sakit Indonesia
Sen - 19 Nov
Ditulis oleh Irman
Sabtu/27 Desember 2008, Israel memulai gempuran dasyat pertamanya ke Jalur Gaza. Kamis/1 Januari 2009, Tim Medis MER-C bersama dengan tim Pemerintah RI berangkat ke Gaza guna menyalurkan bantuan kepada para korban . Akibat agresi Israel selama 22 hari, jumlah syahid tercatat 1.366 orang yang terdiri dari 437 anak-anak, 110 wanita dan 123 lansia. Sementara jumlah cidera tercatat 5.650 orang (Data dari Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza)
Setelah menunggu selama dua pekan di perbatasan, pada tanggal 17 Januari 2009 Tim MER-C baru berhasil memasuki Jalur Gaza. Ketika itu, wilayah Gaza masih dalam keadaan puncak serangan. Pada fase emergency setelah Israel memuntahkan rudal dan bomnya ke wilayah Gaza Palestina, selain mengirimkan relawan medis sebagai Tim Bedah untuk membantu para korban agresi, MER-C juga menyalurkan amanah dana dari masyarakat Indonesia berupa bantuan obat-obatan dan mobil ambulans.
Selama sepekan berada di RS Asy Syifa, Gaza City, Tim MER-C masih banyak menemui korban-korban agresi dengan luka (trauma) berat bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya akibat bom dan rudal Israel yang membabi-buta. Tim MER-C juga melihat bahwa RS di Gaza kewalahan menampung korban agresi yang begitu banyak, terlebih lagi wilayah gaza utara yang berbatasan langsung dengan Israel. Sebagai sebuah wilayah perang, Gaza juga hanya memiliki 1 RS Rehabilitasi, yang tidak luput dari serangan Israel.
MER-C Tanda Tangani MOU Pembangunan RS Indonesia dengan Menkes palestina di Gaza.
Jum’at/23 januari 2009, melihat kebutuhan akan sarana kesehatan khususnya yang berfokus pada Trauma dan Rehabilitasi serta jumlah donasi dari masyarakat Indonesia yang cukup besar kala itu, maka Tim MER-C didampingi sejumlah wartawan dari Indonesia bertemu dengan Menkesa palestina di Gaza, dr. Bassim Naim. Pada kesempatan yang langka tersebut, dimanfaatkan Tim MER-C untuk menyampaikan rencana pembangunan RS Indonesia (RSI) di Jalur gaza.
Rencana ini disambut sangat baik. Atas nama rakyat Indonesia yang diwakili oleh dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT dan atas nama rakyat Gaza yang diwakili oleh dr. Bassim Naim melakukan penandatanganan MOU Pembangunan RSI di Gaza. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C), Drs. HM. Mursalin (Forum Umat Islam), Ir. Hanibal WY Wijayanta (Jurnalis ANTV), Andi Jauhari (Jurnalis ANTARA) dan para ulama Gaza.
Keberadaan RSI ini diharapkan bias membantu menangani pasien-pasien yang mengalami trauma fisik dan merehabilitasi mereka sehingga mereka bisa mandiri dan beraktifitas kembali.
Mengapa Dinamakan RS Indonesia..?
Satu, Karena seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia.
Dua, Rumah sakit ini kita harapkan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.
Tiga, dengan nama dan keberadaan RS ini kita ingin memberi pesan bahwa di tanah Palestina ada aset dan sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.
Lika-liku Program RS Indonesia.
2 Februari 2009 :
Pasca penandatanganan MOU, Tim I MER-C kembali ke tanah air dan menyampaikan rencana Pembangunan RSI kepada Menkes RS saat itu, DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K).
Januari – Mei 2009 :
MER-C menugaskan Tim ke – II untuk menindaklanjuti MOU RSI. Selama 4 bulan melakukan assessment dan koordinasi dengan berbagai pihak di Gaza, 3 Mei 2009, MER-C mendapat surat tanah wakaf untuk RSI dari PM Palestina Ismail haniya.
Mei 2010 :
Selama 1 tahun tak kunjung mendapat izin masuk Gaza, MER-C bersama aktifis dari berbagai Negara mengikuti Misi Freedom Flotilla (Armada Pembebasan Gaza) dengan menaiki kapal milik organisasi IHH Turki bernama “Mavi Marmara”.
31 Mei 2010, terjadi insiden penyerangan kapal “Mavi Marmara” oleh tentara Israel yang menyebabkan 9 aktifis meninggal dunia dan puluhan luka-luka. Aklitis lain, termasuk Tim MER-C ditangkap dan ditahan oleh Israel. Harapan menginjak kaki di tanah Gaza untuk melanjutkan program RSI pun pupus.
Juli 2010 :
Tekanan dunia Internasional yang besar pasca insiden penyerangan “Mavi Marmara” membuat pintu perbatasan menuju Gaza menjadi “agak longgar”. Juli 2010, Tim MER-C dengan sejumlah media akhirnya bias kembali masuk ke Jalur Gaza.
Juli 2010 :
Tim MER-C yang terdiri dari dokter dan insinyur menjelaskan disain RSI kepada Perdana Menteri Palestina (Ismail Haniyah) dan Menkes Palestina di Gaza (dr. Bassim Naim).
Agustus 2010 :
Cabang MER-C di Gaza dibuka dan mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah setempat. Pengakuan ini diberikan bertepatan dengan acara peringatan HUT RI ke-65 yang merupakan HUT RI pertama kalinya diselenggarakan di Jalur gaza.
8 – 10 Agustus 2010 :
Tim MER-C melakukan Soil Investigation Test terhadapat tanah wakaf RSI bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Islam gaza. Tes ini kemudian diikuti dengan survey lahan lebih lanjut untuk mendapatkan data kontur topografi tanah.
9 Desember 2010 – 6 Januari 2011 :
Upaya untuk menembus dan membuka blockade Gaza terus berlanjut. Kini masyarakat Asia yang tergabung dalam “Asian People’s Solidarity for Palestine” melakukan konvoi “Asian Solidary Caravan for Gaza” pada 2 Des 2010 – 6 Jan 2011 yang diikuti 160 aktifis dari 13 negara di Asia. Indonesia turut mengirimkan delegasinya yang terdiri dari 11 aktifis dan 2 jurnalis yang berasal dari MER-C, Voice of Palestine (VOP), Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) dan Aqsa Working Group (AWG).
Sempat terkendala izin untuk masuk ke Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil mencapai Gaza pada 2 Januari 2011. Dua relawan MER-C di Gaza, yaitu Abdillah Onim dan Ir. Nur Ikhwan Abadi turut menyambut kedatangan konvoi ini.
Sebanyak 5 relawan dari AWG/Pesantren Al Fatah, kemudian memutuskan untuk menetap di Gaza guna membantu program pembangunan RSI di jalur Gaza. Kesempatan memasuki Gaza juga dimanfaatkan oleh dua relawan HASI untuk melakukan survey lebih lanjut mengenai Unit bank Darah (Blood Bank Unit) yang akan melengkapi RSI.
Dengan bertambahnya 5 relawan, jumlah keseluruhan relawan Indonesia yang bertugas di Gaza untuk mengawal program Pembangunan RSI menjadi 7 orang, yaitu : Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Abdurrahman, Darusman dan Muhammad Husein.
Februari – April 2011 :
Setelah data tanah lengkap dan seluruh disain RSI disetujui oleh Kemenkes Gaza, maka sesuai dengan prosedur dari Pemerintahan Palestina di Gaza, pada tanggal 2-3 Februari 2011 MER-C memasang iklan pengumuman tender pembangunan tahap 1 (Satu) untuk struktur RSI di Koran lokal, Felesteen. Lima kontraktor papan atas Gaza terpilih untuk mengikuti tender ini.
20 April – 20 Mei 2011 :
Tim Konstruksi MER-C yang diketuai oleh Ir. Faried Thalib berangkat ke Gaza untuk menentukan pemenang tender dan melakukan kontak dengan pemenang tender. Namun hingga 1 (satu) bulan di Mesir, Tim MER-C tidak kunjung mendapat izin masuk ke Gaza. Proses penentuan pemenang tender pun dilakukan melalui telekonferens antara Tim MER-C di Mesir, Tim MER-C di Gaza dan para kontraktor di Gaza.
28 April 2011, kontraktor First Company ditetapkan sebagai pemenang tender pembangunan tahap 1 (satu) untuk struktur RSI.
Pembangunan RSI pun Dimulai.
14 Mei 2011 :
Pembangunan struktur RSI dimulai. Pembangunan struktur akan memakan waktu 9 bulan, yang kemudian akan diikuti dengan pembangunan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
Dalam program ini, MER-C turut di bantu oleh Pesantren Al fatah Cileungsi yang menyediakan SDM-SDM relawan yang memiliki keahlian di bidang konstruksi.
Sementara itu, Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) juga akan melengkapi bangunan RSI dengan Unit Bank Darah (Blood Bank Unit)
12 – 24 November 2011, Tiga relawan insinyur MER-C yang di pimpin oleh Ir. Faried Thalib (Ketua Divisi Konstruksi) berangkat ke Gaza untuk melakukan supervise langsung pembangunan struktur RSi. Tim ini sekaligus melakukan survey ketersediaan material untuk pembangunan tahap 2, yaitu Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
28 April 2012 : Alhamdulillah, atas doa dan dukungan rakyat Indonesia, pembangunan tahap 1 (struktur) RSi yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement ditambah 1 lantai area tengah (middle area) telah selesai 100%.
Selanjutnya akan dilakukan pembangunan tahap 2 berupa pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) rumah sakit. Pekerjaan tahap ini akan melibatkan lebih banyak relawan dari Indonesia karena pekerjaan arsitektur & ME seluruhnya akan dilakukan oleh putra-putra bangsa.
Apa Kata Mereka Tentang RSI di Gaza.
“Terima kasih rakyat Indonesia atas bantuan Rumah Sakit yang saat ini sedang dibangun. Wahai rakyat Gaza Palestina yang tercinta, jangan pernah bersedih karena di belakang kalian ada rakyat Indonesia.”
– Ismail haniyah, PM Palestina
“Lokasi ini (Bayt Lahiyah, Gaza Utara) tepat apabila dibangun sebuah rumah sakit mengingat posisinya yang berdekatan dengan penjajah Israel, saat perang korban terbanyak di daerah Gaza Utara ini. Kami lihat rumah sakit ini cantik berbentuk segi 8, secantik hati rakyat Indonesia yang telah bersungguh-sungguh dalam membantu saudara-saudaranya di Gaza Palestina. Dengan segenap kesungguhan kita bersama, insya Allah akan menjadi washilah dan penyebab tercapainya pembebasan Masjidil Aqsha dan kemerdekaan Palestina.”
– dr. Bassim Naim, Menteri Kesehatan Palestina di Gaza
“Disain Rumah Sakitnya sangat indah. Rumah Sakit terindah di kota Gaza. Disainnya berkolaborasi dengan Kubah Shakra.”
– Jamila Shanti, Menteri Urusan Wanita Palestina di Gaza
“Proyek ini (Rumah Sakit) merupakan wujud kerja keras dan kerja sama yang sangat luar biasa. Seperti inilah hasilnya jika kita bekerjasama saling menopang dan melibatkan semua elemen yang ada di Jalur Gaza. RS Indonesia sebagai sebuah amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina akan menjadi salah satu RS terbesar di Jalur Gaza bahkan di seluruh wilayah Palestina. RS Indonesia juga akan menjadi RS utama di wilayah Gaza bagian Utara.”
– DR. Naji Sarhan, Wakil Menteri PU Palestina di Gaza
Deskripsi RS Indonesia.
Tipe RS : Trauma Center & Rehabilitation
Lokasi RS : Bayt Lahiya, Gaza Utara
Status Tanah : Wakaf dari Pemerintah Palestina
Luas tanah : 16.261 m2
Kapasitas RS : 100 tempat tidur
Berdasarkan kebutuhan dan permintaan langsung dari Pemerintah palestina di Gaza pada bulan Juli 2010, maka bangunan RS Indonesia yang semula hanya terdiri dari 2 (dua) lantai, maka sekarang di tambah dengan 1 (satu) lantai basement.
Salurkan Dukungan & Bantuan Anda, Melalui Rekening Dibawah Ini :
Bank Syariah Mandiri (BSM), cabang Kramat
Acc. No. 700.1352.061
Bank Central Asia (BCA), cabang Kwitang
Acc. No. 686.0153678
Atas Nama : Medical Emergency Rescue Committee
Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 21 November 2012 15:07